Mengatasi Suasana Kaku Ketika Pendalaman Kitab Suci
Pernahkah Anda datang ke pertemuan
pendalaman Kitab Suci, duduk bersama saudara-saudari seiman, tetapi setelah doa
pembuka selesai… tiba-tiba semua orang diam?
Pertanyaan sudah diberikan, tetapi
tidak ada yang menjawab. Semua menunduk. Ada yang pura-pura membaca buku, ada
yang sibuk melihat halaman Kitab Suci, dan mungkin ada satu orang yang dalam
hati berkata, “Tuhan, kalau boleh… semoga pertemuan ini cepat selesai.”
Mengapa pendalaman Kitab Suci yang
seharusnya menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan justru kadang terasa kaku,
canggung, bahkan membosankan?
Pada materi kali ini, kita akan membahas topik mengatasi suasana kaku ketika pendalaman Kitab Suci.
Ini adalah persoalan yang sangat
dekat dengan kehidupan umat Katolik, khususnya ketika kita berkumpul dalam
lingkungan, wilayah, kelompok kategorial, komunitas basis, atau dalam kegiatan
Bulan Kitab Suci Nasional.
Kita mungkin sudah menyiapkan
bahan dengan baik, sudah mencetak materi, sudah menyiapkan Kitab Suci, bahkan
sudah menyiapkan pertanyaan diskusi. Tetapi ketika pertemuan dimulai, ternyata
suasananya seperti ruang ujian.
Pemandu bertanya.
Diam.
Pemandu bertanya lagi.
Lebih diam.
Akhirnya pemandu sendiri yang
menjawab pertanyaannya.
Dan peserta hanya mengangguk.
Padahal pendalaman Kitab Suci
bukanlah ujian pengetahuan agama. Kita tidak sedang mencari siapa yang paling
pintar menjelaskan Kitab Suci. Kita sedang belajar mendengarkan Allah, memahami
Sabda-Nya, dan membiarkan Sabda itu menyentuh kehidupan kita.
Karena itu, pada video ini kita
akan membahas beberapa hal penting: mengapa suasana pendalaman Kitab Suci
menjadi kaku, bagaimana seorang pemandu membangun rasa aman, bagaimana
menghidupkan percakapan tanpa memaksa, bagaimana menggunakan pengalaman hidup
sebagai jembatan menuju Kitab Suci, dan akhirnya bagaimana menjadikan pertemuan
itu sebagai ruang perjumpaan yang sungguh-sungguh Kristiani.
Mari kita duduk sejenak, tarik
napas, dan memasuki pembahasan ini dengan santai.
BAGIAN 1 — MENGAPA SUASANA PENDALAMAN KITAB SUCI BISA MENJADI KAKU?
Saudara dan Saudari, pertama-tama
kita perlu menyadari bahwa suasana kaku bukan selalu berarti pesertanya
tidak tertarik kepada Kitab Suci.
Ini penting.
Kadang kita terlalu cepat
menyimpulkan, “Peserta tidak aktif.”
Padahal belum tentu.
Bisa saja mereka sebenarnya ingin
berbicara, tetapi takut salah.
Ada seorang bapak yang sebenarnya
memiliki pengalaman iman yang sangat dalam, tetapi ketika ditanya, “Apa makna
perikop ini bagi kehidupan kita?” ia diam.
Mengapa?
Karena dalam pikirannya muncul
berbagai pertanyaan:
“Jawaban saya benar tidak?”
“Nanti kalau salah bagaimana?”
“Jangan-jangan orang lain lebih
tahu.”
“Jangan-jangan saya dianggap tidak
mengerti Kitab Suci.”
Inilah salah satu akar suasana
kaku: ketakutan sosial.
Manusia pada dasarnya memiliki
kebutuhan untuk diterima. Dalam filsafat eksistensial, manusia bukan hanya
makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang hidup dalam relasi. Kita ingin
diterima, dihargai, dan diakui keberadaannya.
Karena itu, ketika seseorang
merasa bahwa jawabannya akan dinilai, ia cenderung memilih diam.
Maka, kalau kita ingin mengatasi
suasana kaku ketika pendalaman Kitab Suci, jangan langsung bertanya:
“Kenapa kalian diam?”
Pertanyaan seperti itu justru bisa
membuat suasana semakin beku.
Lebih baik kita bertanya kepada
diri sendiri:
“Apakah peserta merasa aman
untuk berbicara?”
Ini perbedaan yang sangat penting.
Pemandu yang baik tidak hanya
menyiapkan materi. Ia juga menyiapkan ruang psikologis.
Ruang di mana seseorang boleh
mengatakan:
“Saya belum mengerti.”
“Saya melihatnya berbeda.”
“Saya pernah mengalami hal seperti
ini.”
“Saya bingung dengan bagian ini.”
Bahkan:
“Saya tidak tahu.”
Dan jawaban “saya tidak tahu”
sebenarnya bukan kegagalan iman.
Justru kadang itu adalah awal dari
pencarian iman.
BAGIAN 2 — JANGAN MEMBUAT PENDALAMAN KITAB SUCI TERASA SEPERTI UJIAN
Coba kita bayangkan sebuah
pertemuan.
Pemandu berdiri di depan.
Buku terbuka.
Kemudian ia berkata:
“Saudara-saudari, siapa yang dapat
menjelaskan konteks historis dari perikop ini?”
Hening.
Lalu:
“Apa makna teologis ayat ini?”
Hening lagi.
Kemudian:
“Apa hubungan perikop ini dengan
doktrin keselamatan?”
Lebih hening lagi.
Saudara dan Saudari, jangan-jangan
peserta bukan tidak punya iman.
Mungkin mereka hanya merasa sedang
mengikuti ujian teologi mendadak.
Sedangkan pendalaman Kitab Suci
seharusnya membantu orang masuk ke dalam Sabda Allah.
Konstitusi Dogmatis Dei Verbum
Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Kitab Suci memiliki tempat yang sangat
penting dalam kehidupan Gereja. Gereja menerima Sabda Allah sebagai makanan
jiwa dan sumber kehidupan rohani. Bahkan Dei Verbum 25 mengingatkan
bahwa membaca Kitab Suci hendaknya disertai doa sehingga terjadi percakapan
antara Allah dan manusia: kita berbicara kepada Allah ketika berdoa dan
mendengarkan Dia ketika membaca Sabda-Nya. (Vatican)
Perhatikan kata percakapan.
Bukan interogasi.
Bukan perlombaan.
Bukan pertandingan siapa paling
tahu.
Percakapan.
Maka pertanyaan dalam pendalaman
Kitab Suci sebaiknya dimulai dari pengalaman manusia.
Misalnya, daripada bertanya:
“Apa struktur literer perikop
ini?”
Untuk kelompok umat biasa, kita
dapat memulai:
“Bagian mana dari bacaan ini yang
paling menyentuh hati Anda?”
Atau:
“Pernahkah Anda mengalami situasi
seperti yang dialami tokoh dalam bacaan ini?”
Atau:
“Kalau Yesus berbicara kepada kita
melalui bacaan ini, kira-kira apa yang sedang Ia minta dari kita?”
Pertanyaan seperti ini membuka
pintu.
Orang tidak lagi merasa harus
menjadi ahli Kitab Suci.
Mereka cukup menjadi manusia yang
sedang mengalami kehidupan.
Dan dari kehidupan itulah kita
masuk kepada Sabda.
BAGIAN 3 — BANGUN RASA AMAN SEBELUM MEMINTA ORANG BERBICARA
Inilah salah satu prinsip
terpenting dalam mengatasi suasana kaku ketika pendalaman Kitab Suci:
Jangan meminta keterbukaan
sebelum menciptakan rasa aman.
Bayangkan kita baru bertemu
seseorang selama lima menit, kemudian langsung bertanya:
“Ceritakan dosa terbesar dalam
hidup Anda.”
Wah, kemungkinan besar orang itu
bukan menjawab, tetapi langsung mencari pintu keluar.
Begitu pula dalam kelompok Kitab
Suci.
Kita tidak bisa memaksa orang
untuk membuka pengalaman batinnya.
Keterbukaan harus tumbuh.
Caranya sederhana.
Mulailah dari pertanyaan yang
ringan.
“Bagaimana perasaan Anda setelah
mendengar bacaan tadi?”
“Tokoh mana yang paling menarik
perhatian Anda?”
“Ayat mana yang paling Anda
ingat?”
Setelah suasana mulai cair, baru
masuk ke pertanyaan yang lebih dalam.
“Apakah pengalaman tokoh itu
pernah terjadi dalam hidup kita?”
Dan kemudian:
“Apa yang mungkin Tuhan ingin ubah
dalam diri kita?”
Ini sebenarnya mengikuti prinsip
pedagogi iman.
General Directory for
Catechesis menekankan pentingnya kelompok sebagai ruang dialog, sharing,
dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan iman. Kelompok Kristiani bukan hanya
tempat menerima informasi, tetapi juga pengalaman komunitas dan partisipasi
dalam kehidupan Gereja.
Artinya, pendalaman Kitab Suci
bukan hanya transfer informasi, tetapi pembentukan komunitas.
Karena itu, pemandu tidak boleh
hanya berpikir:
“Bagaimana supaya materi saya
selesai?”
Tetapi:
“Bagaimana supaya orang-orang ini
mengalami bahwa mereka sedang berjalan bersama sebagai saudara dan saudari
dalam iman?”
Itulah perubahan cara pandang yang
sangat mendasar.
BAGIAN 4 — GUNAKAN PENGALAMAN HIDUP SEBAGAI JEMBATAN MENUJU SABDA ALLAH
Saudara dan Saudari, ada satu cara
yang sangat efektif untuk mencairkan suasana.
Mulailah dari kehidupan.
Misalnya tema Kitab Suci berbicara
tentang pengampunan.
Jangan langsung memberikan
definisi panjang tentang pengampunan.
Tanyakan:
“Pernahkah Anda mengalami
kesulitan memaafkan seseorang?”
Biasanya pertanyaan seperti ini
lebih mudah dijawab.
Mengapa?
Karena manusia mengenal
kehidupannya sendiri.
Ada orang yang pernah disakiti
pasangan.
Ada yang pernah kecewa kepada
anak.
Ada yang pernah bertengkar dengan
saudara.
Ada yang merasa dikhianati teman.
Ada yang kecewa karena harapannya
terhadap seseorang tidak terpenuhi.
Di sinilah Kitab Suci menjadi
hidup.
Kita kemudian berkata:
“Sekarang mari kita lihat,
bagaimana Yesus berbicara mengenai pengalaman manusia seperti ini.”
Perlahan kita bergerak dari pengalaman
menuju Sabda.
Dalam bahasa filsafat, ini dapat
dikaitkan dengan pendekatan fenomenologis: kita mulai dari pengalaman
sebagaimana dialami manusia, kemudian mencoba memahami makna yang muncul dari
pengalaman tersebut.
Tetapi bagi orang beriman,
prosesnya tidak berhenti pada pengalaman subjektif.
Kita membawa pengalaman itu kepada
terang Sabda Allah.
Sebab pengalaman saya bukan ukuran
terakhir kebenaran.
Sabda Allah membantu saya menilai
pengalaman saya.
Ini penting agar pendalaman Kitab
Suci tidak berubah menjadi:
“Menurut saya begini.”
“Menurut saya begitu.”
“Kalau saya sih…”
Akhirnya semua menjadi opini.
Padahal tujuan pendalaman Kitab
Suci bukan hanya mendengarkan pendapat manusia tentang Alkitab, tetapi
membiarkan kehidupan manusia diterangi oleh Sabda Allah.
Katekismus Gereja Katolik juga
menegaskan pentingnya meditasi: kita membaca, kemudian menghadapkan apa yang
kita baca kepada kehidupan kita, sehingga kita bergerak dari pikiran menuju
kenyataan dan bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki agar aku lakukan?” (Vatican)
Jadi alurnya dapat sederhana:
Hidup → Sabda → Refleksi →
Pertobatan → Tindakan.
Inilah pendalaman yang hidup.
BAGIAN 5 — JANGAN TAKUT DENGAN KEHENINGAN
Nah, ini menarik.
Ketika suasana diam, pemandu
sering panik.
“Kenapa diam?”
“Tidak ada yang menjawab.”
“Bagaimana ini?”
Lalu pemandu mulai berbicara
panjang.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Peserta akhirnya berpikir:
“Kalau begitu kenapa tadi kita
ditanya?”
Hehehe.
Saudara dan Saudari, diam tidak
selalu berarti gagal.
Ada keheningan yang mati.
Tetapi ada juga keheningan yang
sedang bekerja.
Orang mungkin sedang berpikir.
Mungkin sedang mengingat
pengalaman hidup.
Mungkin sedang bergumul dengan
sesuatu yang sangat pribadi.
Mungkin Sabda Allah sedang
menyentuh bagian hidup yang selama ini ia hindari.
Karena itu, setelah memberikan
pertanyaan, jangan buru-buru menjawabnya sendiri.
Berikan waktu.
Misalnya:
“Saudara dan Saudari, kita diam
sejenak. Tidak perlu buru-buru menjawab. Coba kita pikirkan, apa yang
sebenarnya ingin Tuhan sampaikan kepada kita melalui bacaan tadi.”
Kemudian diam selama beberapa
detik.
Biarkan keheningan bekerja.
Dalam tradisi spiritual Kristiani,
keheningan bukan kekosongan. Keheningan dapat menjadi ruang untuk mendengarkan.
Dan ini sangat relevan dengan
pendalaman Kitab Suci.
Kita hidup di zaman yang penuh
suara.
Televisi berbicara.
Media sosial berbicara.
WhatsApp berbicara.
YouTube berbicara.
Notifikasi berbicara.
Kadang-kadang bahkan grup keluarga
pun tidak pernah diam.
Maka Gereja membutuhkan ruang di
mana manusia bisa berhenti sejenak dan berkata:
“Tuhan, saya mau mendengarkan.”
BAGIAN 6 — PANDUAN PRAKTIS AGAR PERTEMUAN MENJADI HIDUP
Sekarang kita masuk ke bagian yang
sangat praktis.
Kalau Anda menjadi pemandu
pendalaman Kitab Suci, cobalah pola sederhana ini.
Pertama, mulailah dengan
suasana yang manusiawi.
Jangan langsung masuk materi.
Sapa peserta.
Tanyakan kabar.
Buat sedikit humor.
Misalnya:
“Bapak-Ibu, sebelum kita mulai,
saya mau memastikan dulu. Semua sudah makan? Karena kalau belum makan,
jangan-jangan bukan Sabda Allah yang sedang kita pikirkan, tetapi nasi goreng.”
Tawa kecil sudah cukup.
Tujuannya bukan menjadi pelawak.
Tujuannya menciptakan kehangatan.
Kedua, gunakan pertanyaan
terbuka.
Hindari terlalu banyak pertanyaan
yang jawabannya hanya “ya” atau “tidak”.
Gunakan:
“Apa yang Anda rasakan?”
“Apa yang menarik perhatian Anda?”
“Menurut pengalaman Anda…”
“Bagaimana Sabda ini berbicara
dalam kehidupan kita?”
Ketiga, jangan langsung
mengoreksi setiap jawaban.
Kalau seseorang menjawab kurang
tepat, jangan langsung:
“Salah.”
Lebih baik:
“Menarik. Mari kita lihat lagi
teksnya. Apakah ada bagian yang bisa membantu kita memperdalam pemahaman itu?”
Dengan demikian, koreksi menjadi
proses belajar, bukan hukuman.
Keempat, hubungkan jawaban
peserta dengan Kitab Suci.
Misalnya seseorang berkata:
“Saya pernah mengalami
pengkhianatan.”
Pemandu bisa mengatakan:
“Pengalaman itu menarik. Sekarang
mari kita lihat bagaimana tokoh dalam Kitab Suci menghadapi pengalaman serupa.”
Dengan begitu, pengalaman pribadi
tidak berhenti sebagai curhat.
Ia menjadi pintu masuk menuju
Sabda.
Kelima, beri kesempatan kepada
banyak orang, bukan hanya kepada orang yang paling aktif.
Dalam hampir setiap kelompok ada
“anggota tetap”.
Begitu pertanyaan diberikan, orang
yang sama menjawab.
Sepuluh kali.
Lima belas kali.
Akhirnya yang lain mungkin
berpikir:
“Biar dia saja. Dia memang sudah
menjadi komentator resmi.”
Hehehe.
Pemandu dapat mengatakan:
“Terima kasih. Saya ingin
mendengar juga dari saudara-saudari yang belum sempat berbicara.”
Dengan lembut.
Tanpa mempermalukan.
BAGIAN 7 — PEMANDU BUKAN ORANG YANG PALING TAHU, TETAPI ORANG YANG MEMBANTU ORANG LAIN MENEMUKAN MAKNA
Ini mungkin bagian yang paling
penting.
Seorang pemandu pendalaman Kitab
Suci tidak harus menjadi orang yang memiliki semua jawaban.
Tugas pemandu bukan mengambil alih
pertemuan.
Tugasnya adalah memfasilitasi
perjumpaan antara manusia dengan Sabda Allah dan antara manusia dengan manusia
lainnya.
Dei Verbum menegaskan bahwa
Kitab Suci merupakan sumber kehidupan Gereja, dan Gereja terus mendorong umat
untuk semakin memahami Kitab Suci dengan bantuan studi yang benar, tradisi,
liturgi, dan kesaksian para Bapa Gereja.
Katekismus juga mengingatkan bahwa
seluruh Kitab Suci memiliki pusat pada Kristus.
Maka pemandu harus selalu
bertanya:
“Apakah percakapan kita
akhirnya membawa kita semakin dekat kepada Kristus?”
Santo Agustinus, ketika
menjelaskan Injil Yohanes kepada umatnya, memperlihatkan sesuatu yang menarik:
ia tidak berbicara kepada umat sebagai seseorang yang hanya ingin menunjukkan
kepandaiannya, tetapi berulang kali mengajak mereka menggali teks bersama-sama
dan menemukan Kristus sebagai Sang Sabda.
Ini memberikan prinsip penting:
Pemandu bukan pusat pertemuan.
Kristuslah pusatnya.
Kalau pemandu menjadi pusat,
peserta hanya menjadi pendengar.
Tetapi kalau Kristus menjadi
pusat, semua orang menjadi peziarah yang sedang mencari.
Dan ketika semua orang merasa
sama-sama sedang mencari, suasana biasanya menjadi jauh lebih manusiawi.
BAGIAN 8 — DARI “DISKUSI” MENUJU “PERJUMPAAN”
Saudara dan Saudari, akhirnya kita
sampai pada inti persoalan.
Mengapa kita melakukan pendalaman
Kitab Suci?
Bukan supaya pertemuan kita ramai.
Bukan supaya dokumentasi terlihat
bagus.
Bukan supaya semua peserta
berbicara.
Bukan juga supaya pemandu terlihat
pintar.
Kita berkumpul karena kita percaya
bahwa Allah masih berbicara kepada umat-Nya melalui Sabda-Nya.
Dei Verbum menggambarkan
Kitab Suci dengan sangat indah: di dalam Kitab Suci, Bapa di surga datang
menjumpai anak-anak-Nya dengan penuh kasih dan berbicara dengan mereka. (Vatican)
Bayangkan itu.
Ketika kita membuka Kitab Suci,
kita bukan hanya membuka sebuah buku kuno.
Kita membuka ruang perjumpaan.
Karena itu, kalau suatu malam
pertemuan terasa sedikit diam, jangan langsung kecewa.
Mungkin ada seseorang yang sedang
mendengarkan.
Mungkin ada seorang ibu yang
tiba-tiba teringat anaknya.
Mungkin ada seorang bapak yang
sedang bergumul dengan luka lama.
Mungkin ada seseorang yang selama
bertahun-tahun merasa jauh dari Tuhan.
Dan mungkin melalui satu ayat
sederhana, ia menemukan kembali harapan.
Kita tidak pernah tahu apa yang
sedang terjadi di dalam hati seseorang.
Karena itu, jangan ukur
keberhasilan pendalaman Kitab Suci hanya dari seberapa ramai percakapannya.
Kadang-kadang keheningan
seseorang justru merupakan awal dari percakapan terdalamnya dengan Tuhan.
Dan mungkin inilah cara terbaik
untuk mengatasi suasana kaku ketika pendalaman Kitab Suci:
Bukan dengan memaksa orang
berbicara.
Tetapi dengan menciptakan ruang
yang membuat orang merasa aman untuk berbicara ketika hatinya sudah siap.
PENUTUP
Saudara dan Saudari, akhirnya kita
memahami bahwa suasana kaku dalam pendalaman Kitab Suci bukan sesuatu yang
harus ditakuti.
Yang perlu kita bangun bukan
sekadar suasana yang ramai, tetapi suasana yang aman, hangat, terbuka, dan
berpusat pada Kristus.
Jangan takut pada keheningan.
Jangan takut pada jawaban yang
sederhana.
Jangan takut ketika seseorang
berkata, “Saya tidak tahu.”
Karena pendalaman Kitab Suci bukan
perlombaan menjadi orang paling pintar.
Kita datang sebagai orang-orang
yang sedang mencari.
Kita datang dengan pengalaman
hidup masing-masing.
Dengan luka.
Dengan sukacita.
Dengan pertanyaan.
Dengan harapan.
Dan semuanya itu kita letakkan di
hadapan Sabda Allah.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan
terpenting bukan:
“Apa yang saya ketahui setelah
membaca Kitab Suci?”
Tetapi:
“Apa yang berubah dalam hidup
saya setelah mendengarkan Sabda Allah?”
Sebab Sabda Allah bukan hanya
untuk dipahami.
Sabda Allah ingin dihidupi.
Kalau video ini menginspirasi
Anda, jangan lupa untuk like, tuliskan refleksi Anda di kolom komentar, bagikan
kepada saudara-saudari lain, dan tentu saja subscribe channel Prodiakon dan tak
kalah penting adalah: menurut anda apa topik yang sangat menarik untuk
pembahasan berikutnya? Ditunggu masukannya di kolom komentar.
Mari kita tutup pertemuan ini
dengan memohon berkat dari Allah: Semoga kita sekalian senantiasa dilindungi,
dibimbing dan diberkati oleh Allah Yang Maha kuasa, dalam nama Bapa, dan
Putera, dan Roh Kudus. Amin.Sampai jumpa di video berikutnya.